Jumat, 06 November 2015

SENI UKIR

kali ini saya akan mengulas lebih lanjut tentang seni ukir. seni ukir merupakan salah satu cabang dari seni rupa. tapi seni ukir memang jarang diajarkan dalam pembelajaran siswa. berbeda dengan seni lukis, tari dan musik yang banyak dijadikan salah satu mata pelajaran di sekolah. Salah satu daerah yang sangat identik dengan seni ukirnya adalah Jepara. ini adalah ulasan saya mengenai seni ukir ....

seni dan ukir



SENI UKIR PEMAHAMAN TENTANG SENI UKIR
Seni ukir atau ukiran merupakan gambar hiasan dengan bagian-bagian cekung ( kruwikan ) dan bagian-bagian cembung ( buledan ) yang menyusun suatu gambar yang indah.
Pengertian ini berkembang hingga dikenal sebagai seni ukir yang merupakan seni membentuk gambar pada kayu, batu, atau bahan-bahan lain. Sebagai contoh cara membuat seni ukur kayu dan peralatan untuk mebuat seni ukir kayu adalah sebagai berikut : Peralatan bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat seni ukir kayu
Gergaji : biasa digunakan untuk memotong kayu, pilihlah gergaji yang sesuai untuk mempermudah dalam melakukan pemotongan.
Alat Pahat : alat ini biasa digunakan untuk memahat yaitu membentuk sebuah kayu menjadi bentuk rupa sehingga didapatkan hasil yang diinginkan.
Bor : alat ini biasa digunakan untuk mempermudah dalam melubangi kayu
lem : lem digunakan untuk penempelan jika waktu pemahatan ada yang patah. lem yang digunakan adalah lem khusus kayu yang mempunyai daya rekat tinggi untuk materi kayu. dan masih banyak lagi peralatan pendukung lainnya
Proses membuat seni ukir kayu Pertama-tama penyiapan bahan baku kayu, umumnya menggunakan mesin potong kayu dan alat pengering. Kemudian pembentukan dibuat menggunakan gergaji dan alat pahat Pembentukan halus atau pengukiran dengan menggunakan alat pahat Penghalusan biasanya menggunakan amplas Finishing biasanya dibantu dengan mesin semprot cat dan kuas untuk mewarna Contoh gambar seni ukir kayu.




SEJARAH SENI UKIR INDONESIA
PEMAHAMAN
Ukir ~ Juru ( pandai, tukang )Contoh: Tukang Ukir : Orang yang pekerjaannya mengukirMengukir : Menoreh ( menggores, memahat ) dsb. untuk membuat lukisan ( gambar ) pada kayu, batu, logam,dsb. Ukiran : ( ukiran-ukiran ) hiasan yang terukir. Seni Ukir : seni pahat
PEMAHAMAN TENTANG SENI UKIR INDONESIA Seni ukir atau ukiran merupakan gambar hiasan dengan bagian-bagian cekung (kruwikan) dan bagian-bagian cembung (buledan) yang menyusun suatu gambar yang indah. Pengertian ini berkembang hingga dikenal sebagai seni ukir yang merupakan seni membentuk gambar pada kayu, batu, atau bahan-bahan lain.
Bangsa Indonesia mulai mengenal ukir sejak zaman batu muda (Neolitik), yakni sekitar tahun 1500 SM. Pada zaman itu nenekmoyang bangsa Indonesia telahmembuat ukiran pada kapak batu, tempaan tanah liat atau bahan lain yang ditemuinya. Motif dan pengerjaan ukiran pada zaman itu masih sangat sederhana. Umumnya bermotif geometris yang berupa garis, titik, dan lengkungan, dengan bahan tanah liat, batu, kayu, bambu, kulit, dan tanduk hewan Pada zaman yang lebih dikenal sebagai zaman perunggu, yaitu berkisar tahun 500 hingga 300 SM. Bahan untuk membuat ukiran telah mengalami perkembangan yanitu menggunakan bahan perunggu, emas, perak dan lain sebagainya. Dalam pembuatan ukirannya adalah menggunakan teknologi cor. Motif-motif yang di gunakanpada masa zaman perunggu adalah motif meander, tumpal, pilin berganda, topeng, serta binatang maupun manusia. Motif meander ditemukan pada nekara perunggu dari Gunung merapi dekat Bima. Motif tumpal ditemukan pada sebuah buyung perunggu dari kerinci Sumatera Barat, dan pada pinggiran sebuah nekara (moko dari Alor, NTT. Motif pilin berganda ditemukan pada nekara perunggu dari Jawa Barat dan pada bejana perunggu darikerinci, Sumatera. Motif topeng ditemukan pada leher kendi dari Sumba. Nusa Tenggara, dan pada kapak perunggu dari danau Sentani, Irian Jaya. Motif ini menggambarkan muka dan mata orang yang memberi kekuatan magis yang dapat menangkis kejahatan. Motif binatang dan manusia ditemukan pada nekara dari Sangean.
Setelah agama Hindu, Budha, Islam masuk ke Indonesia, seni ukir mengalami perkembangan yang sangat pesat, dalam bentuk desain produksi, dan motif. Ukiran banyak ditemukan pada badan-badancandi dan prasasti-prasasti yang di buat orang pada masa itu untuk memperingati para raja-raja. Bentuk ukiran juga ditemukan pada senjata-senjata, seperti keris dan tombak, batu nisan, masjid, keraton, alat-alat musik, termasuk gamelan dan wayang. Motif ukiran, selain menggambarkan bentuk, kadang-kadang berisi tentang kisah para dewa, mitos kepahlawanan, dll. Bukti-bukti sejarah peninggalan ukiran pada periode tersebut dapat dilihat pada relief candi Penataran di Blitar, candi Prambanan dan Mendut di Jawa Tengah.
Saat sekarang ukir kayu dan logam mengalami perkembangan pesat. Dan fungsinyapun sudah bergeser dari hal-hal yang berbau magis berubah menjadi hanya sebagai alat penghias saja.pada ukiran kayu meliputi motif Pejajaran, Majapahit, Mataram, Pekalongan, Bali, Jepara, Madura, Cirebon, Surakarta, Yogyakarta, dan berbagai macam motif yang berasal dari luarJawa.
LEGENDA SENI UKIR JEPARA
 

Dikisahkan seorang ahli seni pahat dan lukis bernama Prabangkara yang hidup pada masa Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit, pada suatu ketika sang raja menyuruh Prabangkara untuk membuat lukisan permaisuri raja sebagai ungkapan rasa cinta beliau pada permaisurinya yang sangat cantik dan mempesona. Lukisan permaisuri yang tanpa busana itu dapat diselesaikan oleh Prabangkara dengan sempurna dan tentu saja hal ini membuat Raja Brawijaya menjadi curiga karena pada bagian tubuh tertentu dan rahasia terdapat tanda alami/khusus yang terdapat pula pada lukisan serta tempatnya/posisi dan bentuknya persis. Dengan suatu tipu muslihat, Prabangkara dengan segala peralatannya dibuang dengan cara diikat pada sebuah laying-layang yang setelah sampai di angkasa diputus talinya. Dalam keadaan melayang-layang inilah pahat Prabangkara jatuh di suatu desa yang dikenal dengan nama Belakang Gunung di dekat kota Jepara. Di desa kecil sebelah utara kota Jepara tersebut sampai sekarang memang banyak terdapat pengrajin ukir yang berkualitas tinggi. Namun asal mula adanya ukiran disini apakah memang betul disebabkan karena jatuhnya pahat Prabangkara, belum ada data sejarah yang mendukungnya.
Sejarah
1 . Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, terdapat seorang patih bernama Sungging Badarduwung yang berasal dari Campa (Kamboja) ternyata seorang ahli memahat pula. Sampai kini hasil karya Patih tersebut masih bisa dilihat di komplek Masjid Kuno dan Makam Ratu Kalinyamat yang dibangun pada abad XVI.
2 . Keruntuhan Kerajaan Majapahit telah menyebabkan tersebarnya para ahli dan seniman hindu ke berbagai wilayah paruh pertama abad XVI. Di dalam pengembangannya, seniman-seniman tersebut tetap mengembangkan keahliannya dengan menyesuaikan identitas di daerah baru tersebut sehingga timbulah macam-macam motif kedaerahan seperti : Motif Majapahit, Bali, Mataram, Pajajaran, dan Jepara yang berkembang di Jepara hingga kini.
Sumber: http://djawerndeso.blogspot.com/
SENI UKIR PAPUA


Bagi suku Asmat, seni ukir kayu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang telah turun temurun menjadi suatu kebudayaan yang bukan saja dikenal di Papua dan Indonesia, melainkan sudah ke seluruh dunia. Bagi setiap turis asing yang berkunjung ke Papua, rasanya kurang lengkap apabila tidak mengenal atau membeli cenderamata karya ukir suku Asmat dalam berbagai ukuran. Ciri khas dari ukiran suku asmat adalah polanya yang unik dan bersifat naturalis, dimana dari pola-pola tersebut akan terlihat kerumitan cara membuatnya sehingga membuat karya ukir suku Asmat bernilai tinggi dan sangat banyak diminati para turis asing yang menggemari karya seni.
Dari segi model, ukiran suku Asmat memiliki pola dan ragam yang sangat banyak, mulai dari patung model manusia, binatang, perahu, panel, perisai, tifa, telur kaswari sampai ukiran tiang. Suku Asmat biasanya mengadopsi pengalaman dan lingkungan hidup sehari-hari sebagai pola ukiran mereka, seperti pohon, perahu, binatang dan orang berperahu, orang berburu dan lain-lain. Mengukir adalah sebuah tradisi kehidupan dan ritual yang terkait erat dengan spiritualitas hidup dan penghormatan terhadap nenek moyang. Ketika Suku Asmat mengukir, mereka tidak sekedar membuat pola dalam kayu tetapi mengalirkan sebuah spiritualitas hidup.
Pemotongan Kayu Utuh

Pemotongan kayu adalah hal yang paling awal untuk membuat pola ukiran. Memotong pada sebuah kayu datar untuk membuat pola ukiran sehingga tampak menjadi tiga dimensi. Proses pemotongan ini biasa dilakukan dengan sebuah gergaji manual atau mesin. Kemudian setelah sudah dapat ukuran yang kita perlukan, lalu memotong kayu secara tepat.
Menggambar Pola Ukiran

Menggambar
ukiran dengan alat gambar seperti biasa. Namun perlu diketahui bahwa kayu merupakan benda padat namun berserat. Kita harus bisa menggambar dengan alat tulis yang cuckup tebal agar tidak mudah mengikis terserap kayu. Selain dengan teknik menggambar langsung, kita juga bisa menggunakan dengan teknik menempel. Teknik ini cukup sering digunakan karena cukup mudah. Kita hanya perlu mengeprint atau memfoto copy gambar, lalu kemudian menempel dengan lem pada bilah kayu yang akan Kita ukir.
Alat Untuk Mengukir Khas Jepara

Alat pahat, palu, dan meteran adalah hal wajib yang
Kita punya untuk mengukir kayu. Palu ukir biasanya terbuat dari kayu yang keras, gunanya agar tidak cepat tipis terkena pahat besi. Untuk pahat biasanya terbuat dari besi yang diolah sedemikian rupa sehingga berbentuk menjadi benda runcing dan tajam untuk mengeruk dan mengolah kayu. Sedangkan meteran digunakan untuk memberi jarak dan ukuran yang Kita butuhkan jika ada gambar pola atau tempelan pola ukir yang kurang jelas. Jangan sampai Kita tidak bisa memberi ukuran yang pas pada ukiran, karena ini akan berpengaruh pada ukiran yang sudah jadi nantinya.
Teknik Mengukir Kayu Khas Jepara

Teknik mengukir kayu dibedakan menjadi 2 bagian, yang pertama untuk ukiran dua dimensi (benda seni untuk benda pakai, seperti: kursi, meja, dipan,dll) dan tehnik kedua untuk ukiran 3 dimensi (digunakan untuk ukiran seperti relung, yang diukir sambai bawah dan runcing). Tehnik 2 dimensi ini terdiri dari pengolahan kayu dari sebuah papan datar dari kayu dan hanya diberi cekungan atau lekukan yang tidak terlalu dalam. Penciptaan objek ini tidak terlalu sulit, karena Kita hanya perlu meluruskan atau mengikuti pola ukiran yang sudah Kita buat sebelumnya. Sedangkan untuk tehnik 3 dimensi adalah teknik yang cukup sulit dan rumit. Tehnik 3 dimensi pengerjaannya melalui pola yang sembarang dengan motif dari pengrajin ukir itu sendiri. Meskipun sudah digambar dengan pola namun hal itu tidak terlalu berpengaruh karena nantinya akan tetap di berikan sentuhan-sentuhan ukiran sepantasnya. Tetapi tentunya dengan kreasi-kreasi terbaik yang sudah dipunyai seniman ukir.
Teknik Finishing Ukiran Kayu Khas Jepara

Cara memfinishing ukiran yang sudah jadi memerlukan ketelitian dan keahlian tersendiri. Proses akhir ini yang akan menjadikan ukiran itu terliat baik atau biasa saja. Kita harus pintar dan jeli memilih pengerjaan finishing untuk ukiran Kita. Dalam proses pengerjaan finishing 2 dimensi, amplas dan bahan warna kayu cukup mendominasi. Misal benda pakai seperti meja dan kursi, Kita hanya perlu menghaluskan lalu kemudian mewarnai agar menjadi indah. Sedangkan untuk proses finishing 3 dimensi Kita perlu tehnik yang lebih. Terkadang pengrajin ukiran 3 dimensi tidak perlu bahan warna untuk ukirannya, hal ini dilakukan agar ukiran terlihat tetap alami. Atau kalau memang diperlukan bahan warna, Kita bisa memilih warna-warna natural. Karena warna natural akan tetap menonjolkan sisi keindahan asli kayu. Beberapa seniman ukir
Jepara malah hanya mewarnai bingkai pada ukiran 3 dimensi.
 
http://yayangtkj3.blogspot.co.id/2015/03/seni-pahat-dan-ukir.html

0 komentar:

Posting Komentar